Pesantren | Miftahul Huda
Keabadian Cinta

Pencatat Keabadian Cinta

Diambil Dari : www.r1k40ct4r1n4.com


Pesantren | Miftahul Huda , 

Jika matahari tidak terbit,

Cukuplah wajah Laila menggantikan 

sinarnya,

Jika rembulan tidak timbul,

Kelembutan Laila sudah cukup menyejukkan 

bumi.

- Puisi Qais kepada Laila -

 

Dalam kisah cinta,pena memiliki peran sejarah yang sangat besar dalam mengabadikan cerita kesetiaan dan kasih sayang yang tulus.

Banyak kisah klasik yang sering menjadi bahan materi para penulis dan para pencatat sejarah dalam menggambarkan dan memaknai arti kesetiaan.

Sebut saja kisah yang terjadi di Tanah Arab,kisah Laila Majnun yang bercerita tentang kisah cinta seorang pemuda bernama Qais dan seorang wanita Laila.

Kisah ini bukan cerita dongeng belaka,pemeran utama cerita ini memang ada yaitu Qais bin Al Mulawwah pada zaman pemerintahan Bani Umayyah.

Laila dan Qais bertemu sejak kecil dan mereka saling mengenal ketika mengembala ternak di Bukit Sauban.Dalam sejarah diceritakan bahwa Qais merupakan pemuda tampan yang cerdas dan pandai membuat dan membacakan puisi indah dihadapan Laila.Rasa cinta pun tiba,dan akhirnya mereka berdua menjalin hubungan.

Cerita hubungan kedua insan ini sampai kepada keluarga Laila,dan hal itu dikatakan sebagai hal yang sangat memalukan dikalangan Bani Qatahibiah.Ayahnya sangat marah dan akhirnya mengurung Laila di dalam rumah.

Terdengar kabar bahwa Laila telah dijodohkan oleh ayahnya kepada pemuda yang tidak dicintainya.Sejak saat itu Qais dilanda kegelisahan yang sangat mendalam.Dia pergi meninggalkan rumah tanpa arah,sering kali dia berjalan dengan tanpamenggunakan pakaian sambil mengeluarkan bait-bait untuk Laila.Bahkan ada ahli sejarah yang mengatakan bahwa syair-syair Qais merupakan syair yang paling indah dan enak di dengar di Jazirah Arab.

Laila akhirnya menikah dengan seorang pemuda tampan yang bernama Ibnu Salam,tetapi tetap ia tidak mencintainya.Sehingga ia berterus terang bahwa cintanya hanya untuk Qais,Ibnu Salam mengerti tentang penderitaan yang dialami Laila dan ia tidak akan menyentuhnya sebelum Laila menyerahkan cinta buatnya.Karena penderitaan yang sangat besar akhirnya Laila meninggal dengan penyesalan dan kesedihan yang sangat mendalam.

Majnun tersungkur histeris di atas pusara Laila,sambil memeluk batu nisan,dan akhirnya Qais (Majnun) pun meninggal di atas kuburan cinta sejatinya.

Syeikh Nizami adalah orang yang paling berjasa dalam mengabadikan cerita nyata ini,pada tahun 1188 ia mengumpulkan kisah tersebut dengan lengkap dan begitu indah.


0 Komentar

Tulis Komentar