Pesantren | Miftahul Huda
Kemenangan Al-Aqsho

Sebagian Alat Keamanan Dibongkar,Ribuan Warga Palestina Bertakbir di Luar Masjidil Aqsho

Foto : Quds Network


Pesantren | Miftahul Huda,

LONDON, Kamis (Middle East Monitor): Tepat di jalan yang menjadi titik aksi bela Masjidil Aqsha selama lebih dari sepekan, ribuan warga Palestina berkumpul pada tengah malam untuk merayakan pencabutan “alat keamanan” yang dipasang penjajah Zionis di dekat pintu masuk Masjidil Aqsha, Baitul Maqdis.

Ketika berita mengenai pencabutan besi yang digunakan untuk meletakkan kamera-kamera pengawas dan pagar besi tersebar melalui media sosial dan televisi, warga Palestina dari penjuru Timur Baitul Maqdis terjajah turun ke area bawah Bab al-Asbat Kota Tua.

Para pemimpin agama juga bergabung dengan massa yang bersuka cita, memuji antusiasme mereka tapi mengimbau tetap waspada, dan menyatakan tidak ada seorang pun yang boleh memasuki masjid untuk shalat hingga dikonfirmasikan bahwa seluruh “alat-alat keamanan” baru telah dicabut. “Kondisinya bagus, in syaa Allah, masjid akan dibuka,” kata Imam Yusuf Abu Sneinah kepada Anadolu Agency. “Kini kami akan shalat di jalan-jalan dan jika Allah mengizinkannya kami akan shalat zhuhur di dalam masjid.”

‘Israel’ masih belum mengeluarkan pernyataan tentang pencabutan “alat-alat keamanan” yang masih tersisa.

Seperti diketahui, detektor-detektor logam dan alat-alat pembatas lainnya diletakkan di kompleks Masjidil Aqsha usai aksi bela Masjidil Aqsha yang dilakukan tiga pemuda Palestina berhasil menewaskan sejumlah serdadu Zionis pada 14 Juli lalu.

Para pemimpin agama Masjidil Aqsha menolak memasuki masjid dan menyebut detektor logam merupakan pelanggaran atas “status quo” dan menuntut Masjidil Aqsha “bersih” dari alat-alat pembatas itu seperti sebelum terjadinya insiden.

Dengan dicabutnya sebagian “alat keamanan” ini warga Timur Baitul Maqdis menyatakan senang krisis nampaknya telah reda dan yakin mereka bisa memasuki Al-Aqsha lagi. “Setiap revolusi dimulai dari rakyat, bukan pemerintah. Kau bisa menyebut ini sebuah revolusi,” kata Adnan (58), sopir asal Wadi Joz, kepada Anadolu Agency. “Ini bahkan sebuah revolusi melawan pemerintah Arab.”

Ia mengatakan tidak pernah melihat begitu banyak warga Palestina bergabung bersama untuk merayakan dengan begitu riuh pada tengah malam. “Semua orang bersatu. Rakyat menyadari mereka kehilangan sesuatu ketika penjajah menutup masjid, bahkan bagi mereka yang tidak shalat.”

Bagi warga Palestina, “alat-alat keamanan” yang dipasang di pintu-pintu masuk Masjidil Aqsha melanggar kebebasan beribadah mereka dan merupakan upaya untuk mengubah “status quo” tempat suci ummat Islam itu.* (Middle East Monitor | Sahabat Al-Aqsha)


0 Komentar

Tulis Komentar