Pesantren | Miftahul Huda
Ibnu Malik dan 1002 Bait Syair Gramatika

Ibnu Malik dan 1002 Bait Syair Gramatika

Diambil dari : http://foski-lipia.blogspot.co.id


Pesantren | Miftahul Huda,

Ia adalah seorang ulama yang dikenal dengan ilmu gramatika,kehebatannya dalam merangkai 1002 bait syair dalam kajian tata bahasa Arab diakui oleh para ulama dizamannya. Yang lebih hebatnya lagi seluruh karangannya tidak berbentuk naratif,melainkan bentuk syair atau lagu,tidak semua orang bisa karena susah ditiru. Kitab ini menjadi rujukan berabad-abad di seluruh dunia dalam mengolah kalimat kosa kata bahasa Arab.

Dialah Imam Ibnu Malik,memiliki nama lengkap Abu Abdillah Jamaluddin Muhammad bin Abdillah bin Malik At-Tho’I Al-Jayani Al-Andalusy. Ia lahir pada tahun 564 Hijriyyah di daerah Jayyan,Andalusia (sekarang Spanyol).

Beliau akrab dipanggil Muhammad atau Jamaluddin,nama tenar beliau adalah Ibnu Malik,nama ini disandarkan pada kakeknya.Dengan tujuan untuk menghormati (taaddub) kepada Nabi Muhammad SAW karena memiliki kesamaan nama diri dan nama orang tuanya dengan Nabi Muhammad Saw bin Abdulloh. Alasan lain penyandaran kepada kakeknya tersebut disebabkan karena kakeknya lebih masyhur dan ia lebih lama tinggal bersama kakeknya yang bernama Malik.

Ibnu Malik tekenal cerdas dan ulet,sehingga ia tidak pernah merasa bosan dengan sebuah temuan kajian ilmu pengetahuan, ia memiliki cita-cita yang sangat tinggi ketika itu. Untuk menuntaskan seluruh ambisinya sampai-sampai ia merantau ke Damaskus dan menemui beberapa guru terkenal seperti ; Abu Al-Mudarraf Tsabit Ibnu Muhammad Al-Kula’I,Abu Al Abbas Ahmad Ibnu Nawwar,Abdulloh bin Malik Al-Marsyani (Pakar ilmu Arabiyyah) dan yang lainnya.

Ia dikenal sebagai pelajar yang cepat mengingat dan taktis dalam menghafal ilmu yang didengarnya. Dalam waktu singkat ia mampu mempelajari ilmu Tafsir,Hadits,Ulumul Qur’an,Fiqih, Nahwu dan Shorof serta ilmu-ilmu yang lainnya.

Penguasaannya dalam tata bahasa arab memang sangat luar biasa dan tidak diragukan lagi. Seiring dengan perkembangannya yang begitu cepat, ia dikenal sebagai pakar gramatika dan tata bahasa arab. Para ulama saat itu bedecak kagum dengan kehebatan hapalannya,sehingga tidak heran jika banyak ulama-ulama berguru kepadanya untuk belajar dan menimba ilmu.

Bahkan Imam Ibnu Kholkan yang menjadi Mufti dan Qodi pada saat itu selalu menjadi ma’mum setianya dalam setiap berjamaah. Bahkan untuk menghormatinya,ia tidak segan untuk menghantar Ibnu Malik pulang ke rumahnya.

Imam Ibnu Malik dikenal sebagai ulama yang produktif dalam menulis dan mengarang kitab, spealis utamanya adalah kitab yang membahas tentang gramatika atau tata bahasa arab.

Dari tangan emasnya telah lahir karya spektakuler diantaranya adalah Al ‘Umdah,At Tashil,Lamiyatul Af’al,Fawaidun Nahwiyah dan lain sebagainya.

Kitab yang paling terkenal diantara karyanya adalah Al Khulasoh yang lebih kita kenal dengan Alfiyyah Ibnu Malik. Kitab ini berisi syair sebanyak 1002 bait, tetapi sering disebut 1000 bait karena sisa 2 bait merupakan contoh-contoh, bukan kaidah inti.

Kitab ini berisi ilmu yang menjelaskan tentang kata benda (isim), kata kerja (fi’il), subjek (fa’il), objek (maf’ul), isyaroh,panggilan (nida) dan yang lainnya.

Ada yang unik dalam penyusunan kitab ini, tidak seperti kitab-kitab yang lain yang selalu mengawali penulisan dengan memuji kepada Alloh dan bershalawat kepada nabi. Pada 7 bait pertamanya Ibnu Malik mengawali tulisannya dengan kalimat Qoola, yang merupakan fiil madhi  merupakan kata kerja bentuk lampau padahal beliau baru memulai melakukan penyusunan.

Ini memiliki arti ada sifat optimis yang luar biasa yang dimilikinya saat melakukan penyusunan kitab Alfiyyah yang sedang dikarangnya. Pada bait berikutnya, dengan rendah hati beliau menuliskan dalam syairnya bahwa Alfiyyah yang ia susun melampaui Alfyyah karangan Ibnu Mu’ti,ahli gramatika sebelumnya. Ia mengatakan :

                                        Wataktadi ridhon bighoiri sukhti * Faiqotan alfiyatabni Mu’ti       

“ Dengan Alfiyyah  Aku meminta keridhoan kepada Alloh tanpa murka. Karena telah melebihi Afiyyah milik Ibnu malik “

Sampai pada bait ini ia sempat berhenti sejenak karena takut muncul rasa sombong kepada pendahulunya Ibnu Mu’ti. Tetapi setelah itu ia melanjutkan karangannya sampai selesai dengan lancar tanpa gangguan.

Kitab monumental ini terus dikaji dan dipelajari di seluruh pesantren di Indonesia, bahkan ada sebagian ulama yang menterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia.

Ibnu Malik wafat pada tahun 628 Hijriyyah pada usia 62 tahun. Ia dimakamkan di Damaskus tempatnya menimba ilmu. Kepergiannya merupakan kerugian dan pukulan yang telak bagi khazanah ilmu pengetahuan dunia.

Kita hanya bisa membayangkan seperti apakah proses beliau dalam menyusun karyanya hingga bisa menyejarah dan dinikmati oleh pelajar di seluruh dunia.

Padahal beliau sudah wafat 8 abad yang telah silam. Kita juga membayangkan seperti apa pahala yang beliau terima nanti di akhirat dengan kemanfaatan ilmunya, sehingga melahirkan ulama-ulama baru yang melewati lintas zaman dan geografis.

Kita harus meyaklini bahwa penulilis itu TIDAK PERNAH MATI. Luar biasa.


0 Komentar

Tulis Komentar